Sunday 15 February 2026 - 06:15
Ciri-Ciri Penanti Sejati dalam Cermin Doa Ahd

Hawzah/ Hujjatul Islam wal Muslimin Khaibari, dengan merujuk pada kandungan mendalam Doa Ahd, menyatakan: Pembaruan baiat setiap hari dengan Imam Zaman (as), cita-cita untuk membela dan meraih syahadah di bawah kepemimpinan beliau, serta permohonan untuk dihidupkan kembali demi berkhidmat di zaman kemunculan, merupakan tiga ciri utama para penanti sejati.

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Ridha Khaibari, salah seorang pengajar tingkat tinggi (Sutuh 'Aliyah) Hauzah Ilmiah Qom, dalam salah satu acara wawancara. Beliau membahas topik "Ciri-Ciri Para Penanti Imam Mahdi (as) Berdasarkan Doa Ahd" dan menyatakan: "Penantian dalam budaya Syiah adalah konsep yang penuh makna dan menentukan nasib seorang pecinta." Rasulullah Saw bersabda: "Berbahagialah orang-orang yang sabar di masa kegaibannya." Imam Muhammad Al-Jawad (as) juga menyebut "menanti al-Faraj adalah seutama-utama amal kaum Syiah kami." Hal ini menunjukkan kedudukan luhur penantian aktif dalam sistem ajaran agama kita.

Pengajar tingkat tinggi Hawzah Ilmiah Qom ini menambahkan: "Penantian memiliki dua dimensi: keyakinan dan praktis. Dimensi keyakinan merupakan ruh dan pondasinya." Salah satu doa yang sangat kaya dan secara khusus menekankan dimensi keyakinan dalam penantian adalah Doa Ahd. Keutamaan doa ini sedemikian agung hingga Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam bersabda: "Barangsiapa membacanya selama empat puluh pagi, ia akan termasuk penolong Qa'im (as). Jika ia meninggal sebelum kemunculan, Allah akan membangkitkannya dari kubur untuk berada di bawah komando beliau." Janji ini mengisyaratkan keyakinan akan Raj'a (kembali ke dunia) yang merupakan salah satu keyakinan khusus mazhab Syiah.

Ciri Pertama: Pembaruan Baiat Setiap Hari dan Ikatan Spiritual yang Tak Terputus

Pengajar Hawzah ini menegaskan: Berdasarkan kandungan Doa Ahd, kita dapat merumuskan tiga ciri fundamental bagi seorang penanti sejati. Ciri pertama dan paling mendasar adalah pembaruan baiat setiap hari dan merasakan ikatan permanen dengan Imam yang gaib (as). Setiap pagi, seorang penanti mengucapkan: «اَللّـهُمَّ اِنّی اُجَدِّدُ لَهُ فی صَبیحَةِ یَوْمی هذا... عَهْداً وَعَقْداً وَبَیْعَةً لَهُ فی عُنُقی» dan hendaknya senantiasa memperbarui janji dan ikrar setianya kepada Imam. Ia menyatakan bahwa tidak akan pernah berpaling dari baiat ini. Baiat ini memiliki dua pilar: keyakinan dalam hati terhadap kedudukan Imamah beliau, dan komitmen dalam perbuatan untuk menaati segala perintah dan larangan beliau. Tindakan ini mengawali hari dengan ingatan dan ikrar kepada Imam Maksum (as), serta mengarahkan seluruh aktivitas harian di bawah naungan wilayahnya.

Ciri Kedua: Kerinduan untuk Membela, Taat, dan Syahid di Jalan Imam

Pengajar Hawzah Ilmiah Qom ini menjelaskan: Ciri kedua para penanti adalah memiliki hasrat praktis untuk membela dan berkorban di jalan Imam. Dalam doanya, mereka memohon kepada Allah agar dijadikan bagian dari «اَنْصارِهِ وَ اَعْوانِهِ» (para penolong dan pembantunya), kemudian «الذّابّینَ عَنْهُ» (para pembelanya), dan «الْمُسْتَشْهَدینَ بَیْنَ یَدَیْهِ» (orang-orang yang gugur syahid di hadapannya). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan bahwa penanti sejati tidaklah pasif dan sekadar menunggu, melainkan memiliki jiwa jihad dan kesiapan berkorban. Ia bercita-cita menjadi bagian dari mereka yang bersegera memenuhi hajat dan perintah Imam, bahkan rela mengorbankan jiwanya di jalan ini. Inilah aktualisasi praktis dari baiat di pagi hari yang diucapkannya.

Ciri Ketiga: Permohonan untuk Dihidupkan Kembali Demi Menyaksikan Kemunculan dan Membela Pemerintahan Keadilan

Hujjatul Islam wal Muslimin Khaibari dalam menjelaskan ciri ketiga berkata: Seorang penanti sejati memiliki kerinduan yang begitu dalam untuk menyaksikan kemunculan dan mengabdi dalam pemerintahan Imam Mahdi, sehingga ia bahkan tidak memandang kematian sebagai akhir dari perjalanannya. Ia memohon kepada Allah Swt:

«اَللّٰهُمَّ إِنْ حالَ بَیْنِی وَبَیْنَهُ الْمَوْتُ... فَأَخْرِجْنِی مِنْ قَبْرِی مُؤْتَزِراً کَفَنِی، شاهِراً سَیْفِی» Artinya: "Ya Allah, jika Engkau pisahkan antara aku dan dia dengan kematian..., maka bangkitkanlah aku dari kuburku dengan berbusana kafan dan menghunus pedang" — agar ia dapat menyambut seruan Imam Zaman. Penggalan doa ini memperlihatkan puncak cinta dan kerinduan seorang penanti, dan selaras sempurna dengan janji Raj'at dalam riwayat tentang membaca doa ini selama empat puluh pagi. Seorang penanti tidak membawa serta cita-citanya ke liang kubur, tetapi ia bahkan berharap dihidupkan kembali demi mewujudkannya.

Pengajar Hawzah Ilmiah Qom ini, seraya menyinggung suasana hati Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam saat membaca doa ini, menegaskan: Diriwayatkan bahwa Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam setelah membaca Doa Ahd, tiga kali memukulkan tangan ke pahanya dan bersabda: "«عَجِّل عَجِّل یا مَولای یا صاحِبَ الزَّمان» (Segeralah, segeralah, wahai junjunganku, wahai Shahibuz-Zaman.). Perilaku ini menunjukkan betapa dalamnya kerinduan dan keadaan menanti al-Faraj dalam diri suci Imam Maksum (as). Dengan demikian, penanti sejati adalah ia yang membaca doa ini bukan sekadar sebagai untaian kata indah, melainkan sebagai bentuk keyakinan dan penyampaian kerinduan batinnya, serta senantiasa berusaha membina dan mempersiapkan diri dan jiwanya demi terwujudnya kandungan doa tersebut.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha